http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-074f-388e-fa04?ln maswin

Minggu, 23 Oktober 2016

PONDOK PESANTREN : PENJAGA KARAKTER BANGSA

A. Pendahuluan
Era globalisasi dewasa ini sudah menjadi kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap bangsa dan negara, tidak terkecuali Indonesia. Proses interaksi dan saling pengaruh-mempengaruhi, bahkan pergesekan kepentingan antar-bangsa terjadi dengan cepat dan mencakup masalah yang semakin kompleks. Batas-batas teritorial negara tidak lagi menjadi pembatas bagi kepentingan masing-masing bangsa dan negara.
Di bidang ekonomi terjadi persaingan yang semakin ketat, sehingga semakin mempersulit posisi negara-negara miskin atau berkembang seperti Indonesia.Banyak produk - produk asing  misalnya seperti apel merah dari Washington, anggur merah, kelengkeng, buah pir Cina, pisang Cavendish, bahkan sampai bawang merahpun masuk begitu bebas tanpa bisa dibendung, dengan dalih  "perdagangan bebas". Globalisasi ekonomi ini sesungguhnya didukung oleh sebuah kekuatan yang luar biasa hebatnya, yaitu apa yang disebut liberalisme ekonomi, yang sering juga disebut kapitalisme pasar bebas. Kapitalisme pasar bebas ini mempunyai tiga ciri, yaitu pertama, sebagian besar sarana produksi dan distribusi dimiliki oleh individu; kedua, barang dan jasa diperdagangkan di pasar bebas yang bersifat kompetitif; ke tiga, modal diinvestasikan ke dalam berbagai usaha untuk menghasilkan laba. Bagi negara-negara berkembang, sistem kapitalisme pasar bebas jelas akan sangat merugikan, sebab kekuatan modal besar akan bisa menggilas produk - produk  dalam negeri.yang  tidak akan mampu bersaing dengan produk negara maju.
 Sementara itu dalam bidang politik dan pertahanan keamanan terjadi pula pergeseran nilai. Misalnya, globalisasi di bidang politik tampak, bahwa demokrasi dan HAM telah dijadikan oleh dunia internasional untuk menentukan apakah negara tersebut dinilai sebagai negara beradab atau bukan? Beberapa negara timur tengah misalnya telah porak poranda karena politik yang dianut di negara tersebut tidak sesuai dengan HAM dengan yang ditetapkan dunia barat, sehingga menuntut pihak asing untuk ikut campur di negara tersebut.
Dalam bidang sosial dan budaya, dampak globalisasi antara lain adalah meningkatnya individualisme, perubahan pada pola kerja, terjadinya pergeseran nilai kehidupan dalam masyarakat. Saat ini di kalangan generasi muda banyak yang seperti kehilangan jati dirinya, sehingga ada yang melampiaskan memakai obat - obatan terlarang.
B. Pendidikaan berkwalitas
Untuk menghadapi dampak negatif dari globalisasi adalah dengan meningkatkan kwalitas pendidikan. Pendidikan yang berkwalitas harus bisa mencetak individu yang mempunyai kreatifitas yang tinggi, tangguh, tidak mudah menyerah, dan tentunya mempunyai karakter budaya bangsa yang kuat. Jika tidak maka individu itu akan jadi pecundang di negerinya sendiri artinya menjadi penonton atau penaunggu sedekah dari bangsa lain yang menguasai negerinya.
"Bangsa  apa pun, apalagi bangsa kita, tidak akan mungkin dapat mencapai kemajuan tanpa sumber daya manusia yang baik. Sumber daya manusia yang baik tidak akan dapat kita peroleh tanpa pendidikan yang baik." kata Yusuf Kalla dalam pertemuan dengan pengurus Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta.[i]
Pendidikan yang berkwalitas juga harus menjadi proses pembudayaan manusia untuk dijadikan manusisa seutuhnya sesuai dengan karakter bangsa atau masyarakatnya. Pendidikan bukanlah mesin "ATM" yang bisa digunakan untuk mentransfer suatu nilai dengan cepat tanpa memperhatikan daya serap anak didik, pendidikan juga bukan merupakan progaram komputer yang bisa dengan cepat meng copy - paste nilai kedalam otak anak didik.
Pendidikan yang berkwalitas adalah pendidikan yang bukan mencetak anak didik yang jago menghafal, mencotek, mudah depresi, minder, suka melakukan bullying(untuk mendapat pengakuan dari adik kelas) tetapi pendidikan yang bisa mencetak  rasa peduli pada sesama, kreatif, mandiri, rasional dan tidak mudah menyerah.
Pendidikan yang berkwalitas harus bisa menghasilkan banyak pemimpin. Pemimpin yang baik menurut Ki Hajar Dewntara adalah pemimpin yang mempunyai sifat Ing Ngarso Sung tolodo, In Madyo Mangu Karso, Tut Wuri Handayani yaitu pemimpin yang jika didepan masyarakat harus bisa jadi teladan, ditengah masyarakat harus bisa memberi semangat, dan jika dibelakang bisa menjadi pendorong.
Menurut Platon untuk mendidik calon pemimpin ada tiga pengandaian dasar yaitu yang pertama, pendidikan itu mendidik jiwa anak didik. Dengan memahami jiwa  menurut Platon membuat kita sadar bahwa pendidikan harus bisa mengarahkan jiwa anak didik kearah kebenaran yang sejati. Kedua, Imitasi artinya pendidikan harus bisa  meniru keutamaan  lingkungan sekelilingnya, dengan begitu pendidikan bisa menciptakan sensebilitas (kepekaan rasa merasa). Ketiga, konsisten dengan prinsip bahwa hidup itu harus direngkuh.[ii]
Untuk mendidik anak didik yang dapat menjadi pemimpin tentunya memerlukan suatu figur yang mempunyai integritas untuk memajukan bangsa ini untuk dijadikan panutan dan teladan.

C.Pentingnya karakter bagi kemandirian bangsa
 Negara  Jepang yang pada awal Maret 2011, terjadi gempa Tsunami, yang menurut Kompas.com tinggi gelombang air laut yang mencapai daratan mencapai 4 meter dan kekuatan gempanya mencapai 8,9 SR, benar-benar melumpuhkan negeri matahari tersebut. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi di Indonesia, maka secepat kilat para pewarta baik cetak atau elektronik mengabarkan orang yang meratap dan berurai air mata akibat bencana itu. Para pewarta seakan beradu cepat, akurat, tajam, dan terpercaya untuk menampilkan dan mempertontonkan kemalangan dan derita masyarakat. Sementara para petinggi dan pesohor negeri saling mengkritik dan mencaci terhadap penanganan bencana tersebut untuk berebut simpati.
Tetapi peristiwa tersebut tidak terjadi di negeri Jepang, para pewarta cetak ataupun elektronik mengabarkan dengan santun dan hati-hati.Mereka mengabarkan bencana tersebut dengan penuh kearifan dan jauh dari provokasi. Mereka tidak menampilkan orang yang meraung - raung karena kehilangan sanak famili dan harta bendanya. Mereka mengabarkan orang-orang yang tertib saat antri menerima bantuan dari para sukarelawan. Mereka mengabarkan bahwa malapetaka yang hebat itu tidak meruntuhkan semangat dan karakter bangsa Jepang.
Karakter yang kuat perlu dimiliki suatu bangsa dalam mempertahankan keberadaan bangsa tersebut. Thomas Lickona berpendapat bahwa, "Sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran, ketika karakternya tergadai."[iii]
Membentuk bangsa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan Moral Choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi kebiasaan dan membentuk watak atau tabiat seseorang.
Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Pendidikan karakter, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur. Dan yang terpenting adalah praktekan setelah informasi tersebut diberikan dan lakukan dengan disiplin, sehingga terbentuklah suatu kebiasaan atau budaya.
D.Pesantren dan pembangunan karakter
Tidak ada data resmi tentang kapan  pesantren atau pondok pesantren pertama muncul di Indonesia. Namun dari catatan para sejarawan, pesantren mulai dikenal di Nusantara sejak masuknya Islam di Indonesia. Menurut para ahli, pondok pesantren sebagai sebuah model lembaga pendidikan Islam mulai dikenal di Pulau Jawa sekitar permulaan abad ke-15 atau kurang lebih 500 tahun yang lalu. Selama kurun waktu hampir setengah milenium itu, lembaga pesantren telah mengalami banyak perubahan di berbagai segi dan telah memainkan berbagai macam peran strategis dalam masyarakat dan bangsa Indonesia. Pada era walisongo, peranan terpenting dari pondok pesantren tampak dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Pesantren dengan figur kiayi atau wali juga memiliki kekuatan politis untuk melegitimasi sebuah kekuasaan seperti yang terjadi pada kasus kerajaan Demak dan Pajang. Peran politis tersebut semakin menguat pada zaman penjajahan Belanda, dimana hampir semua peperangan melawan pemerintah kolonial Belanda bersumber atau paling tidak mendapat dukungan sepenuhnya dari pesantren.
Adapun perkembangan pondok pesantren sebagai sebuah sistem pendidikan tertua di Indonesia mulai menjamur khususnya di tanah Jawa sejak abad ke-17. Keberadaan pesantren dalam sejarah Indonesia telah melahirkan hipotesis yang barangkali memang telah teruji, bahwa pesantren dalam perubahan sosial bagaimanapun senantiasa berfungsi sebagai “platform” penyebaran dan sosialisasi Islam.
Kata pondok berasal dari bahasa arab “funduq” yang berarti ruang tidur, asrama, atau wisma sederhana.[iv] Maka pondok memang pada awalnya adalah tempat penampungan sederhana bagi para santri yang jauh dari tempat asalnya. Bahkan kini “funduq”  juga dapat diartikan sebagai hotel mewah. Adapun pesantren berasal dari bahasa India “shastri” yang berarti ilmuwan atau cendikiawan (Hindu), maka pesantren sendiri adalah tempat pendidikan untuk mencetak dan melahirkan ilmuwan-ilmuwan atau cendikiawan (Hindu).[v]
Pondok pesantren bukan hanya tempat untuk melakukan untuk melakukan tranfer ilmu dan teknologi,tetapi juga suatu lembaga yang memiliki pola atau sistem untuk membentuk masyarakat yang bisa berbeda dengan masyarakat sekitarnya.
Sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas, pesantren memiliki tradisi keilmuan yang berbeda dengan lembaga pendidikan yang lain, salah satu kekhasan pesantren adalah tetap mempertahankan kemandirian dan hidup kolektif yang tidak bisa dipisahkan sifat al-ukhuwwah (persaudaraan), al-ta'awun(tolong menolong), al-ittihad(persatuan), peduli, musyawarah, tanggung jawab, kesetaraan, kesabaran, kejujuran, kasih sayang, penghargaan al-tha'ah(patuh/taat pada Allah,Rasul,pemimpin).
Ciri khas yang dimiliki pesantren seperti tersebut diatas terbentuk dalam diri santri melalui proses interaksi yang alami antara pengajar(ustad/kyai) dengan santri, atau antar sesama santri, yang menyebabkan timbulnya suatu kebiasaan atau karakter yang positif, karena hal tersebut tidak diajarkan melalui lisan saja tetapi juga dalam contoh perbuatan  sehari- hari. Jadi tidak salah kalau pesantren disebut penjaga karakter bangsa
E. Penutup
Pondok pesantren merupakan lembaga yang asli dan tertua di Indomesia. Keberadaannya sudah teruji oleh zaman, sehingga sampai saat ini masih bisa bertahan dengan berbagai macam dinamikanya. Ciri khas yang dimiliki oleh pesantren dan tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain adalah pola pendidikan yang berjalan selama duapuluh empat jam dengan menkondisikan para santri dalam satu lokasi asrama sehingga mempermudah mengaplikas sistem pendidikan yang total.
Selain itu pendidikan di pondok pesantren juga mengajarkarkan nilai - nilai yang positif yang diajarkan melalui contoh dan teladan yang nyata oleh para guru (ustad) dan teman santri yang senior,sehingga bisa membentuk masyarakat yang berkarakter positif.
Daftar Pustaka
Ali, Atabik-Muhdhor, Ahmad Zuhri (1996) Kamus Kontemporer Indonesia (Al-‘Ashry), Yogyakarta : Yayasan Ali Maksum
Arifi, Ahmad (2010), Politik Pendidikan Islam, Menelusuri Ideologi dan Aktualisasi Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi. Sleman : Teras
Badruzaman, Abad (2010) Membangun Keshalehan Sosial, Sleman : Teras
Departemen Agama RI (2003) Pola Pembelajaran Pesantren, Departemen Agama RI, Jakarta : Departemen Agama RI
Husaini, Adian (2012) Pendidikan Islam,Membentuk Manusia Berkarakter. Depok : Adabi Press
Kasali, Rhenald(2014), Let's Change : Kepemimpinan, Keberanian, Dan Perubahan, Jakarta  : PT Kompas Media Nusantara
Lebang, Toni,(2007), Berbekal Seribu Akal Pemerintahan Dengan Logika Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Lickona, Thomas (1992) Educating For Character :How Our School Can Teach Respect and Responbility New York, Bantam Books.
Wibowo,A Setyo, Cahyadi, Haryanto (2014) Mendidik Pemimpin Dan Negarawan Dialektika Filsafat Pendidikan Politik Platon Dari Yunani Antik Hingga Indonesia, Yogyakarta : Penerbit Lamlera
Wibowo, Agus (2012) Pendidikan Karakter, Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.









1. Tomi Lebang, Berbekal Seribu Akal Pemerintahan Dengan Logika (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama,2007) h.175
[2] A.Setyo Wibowo,Haryanto Cahyadi, Mendidik Pemimpin Dan NegarawanDialektika Filsafat Pendidikan Politi Platon Dari Yunani Antik Hingga Indonesia, (Yogyakarta : Penerbit Lamlera 2014)h 287
[3) Thomas Lickona, Educating For Character :How Our School Can Teach Respect and Responbility (New York, Bantam Books,1992).
[4] Atabik Ali-Ahmad Zuhri Muhdhor, Kamus Kontemporer Indonesia (Al-‘Ashry), (Yogyakarta : Yayasan Ali Maksum, 1996), h. 1408
[5] Pola Pembelajaran Pesantren, Departemen Agama RI, (Jakarta : 2003), h. 5

Jumat, 05 Juni 2015

MAAFKAN SAYA YA BUNDA.......

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.
Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan.
Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.
Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu".
Saya pun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya"
Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil."
"Memang harganya berapa dok?" Tanya saya.
Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik."
"Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?"
Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil."
Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari tiga puluh enam juta, Dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi.
Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan."
"Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak." jawab dokter.
Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya Tuhanku... aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba- Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku... gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk.
Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."
Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 2.500,00 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 12.500,00. Saya ambil uang itu, Rp 7.500,00 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.
Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat... yang ngambil uangku kualat..." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.
Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu."
Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?"
"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega- teganya ada yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon.
Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.
Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya... yang ngambil uang itu saya, bu... saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf... saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu." Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan, pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya. Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan

sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter."

MAINKAN SAJA PERANMU,TUGASMU HANYA TAAT KAN ?

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika masa yang semestinya kamu sudah menjadi seorang mahasiswa, tapi nyatanya kini masih harus berjuang lagi untuk menjadi mahasiswa. Mainkan saja peranmu dengan sebaik-baiknya, bahwa Allah menakdirkan kebaikan untukmu, dari jalan perjuangan ini, lagi dan lagi.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika skripsi atau tesismu terbengkalai tersebab kamu mengurus amanah Allah yang akan menjadi bintang. Mainkan saja peranmu dan Allah akan tunjukkan jalan keluar yang spesial untukmu.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan. Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati, sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab. Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis. Mainkan saja peranmu, ya mainkan saja, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk. Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah? Lelah yang Lillah, berujung maghfirah.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu? tetap berjalan bersama ridha-Nya dan ridhanya, untuk bahagia buah cinta.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya, langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut. Mainkan saja peranmu dengan sebaik-sebaiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam menengadah mesra bersamanya.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati. Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana Zulaikha yang sabar menanti Yusuf tambatan hati, atau bagai Adam yang menanti Hawa di sisi.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini, membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu. Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian, rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah dalam catatan takdir manusia.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ya, taat. Bagai nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Taat yang dalam suka maupun tidak suka.
Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasa menjadikan kekuatan untuk tetap taat.
Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-Nya, dan karena-Nya.


Selasa, 26 Mei 2015

KU KAN TETAP MENCINTAIMU.....


Aku ingin lari dari keputusasaan ini
lepas dari cengkeraman keraguan
dan berusaha kuat dengan ketidakberdayaanku
aku tidak mau dibilang lemah

Hanya karena tangisan yang keluar dari mata
aku tidak ingin dikatakan rapuh
hanya karena besarnya rasa cintaku
tapi aku hanya mampu diam

Dan membiarkan semua begitu saja
tetap seperti adanya
mengalir sampai ke tempat tujuannya…
Aku akan tetap berusaha sabar

Berdiri tegar dengan sisa-sisa tenagaku
aku yakin semua keputusasaan, keraguan, dan ketidakberdayaan
itu akan lenyap menghilang
seiring dengan bergantinya musim

Aku tidak akan kehilangan cintaku
karena aku yakin cinta yang kupunya tak’kan habis
yang hanya kupersembahkan untukmu
wahai cinta sejatiku….

KU KAN MENJAGAMU.......

Eko Pratomo Suyatno, namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri Reksadana di Indonesia dan juga direktur dari Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa! Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno selalu sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya– karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu. Kata si Sulung sambil berlinang air mata.

Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

Anak-anakku. Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian sejenak kerongkongannya tersekat kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.

Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit. Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno, dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi narasumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah penonton yang kebanyakan perempuan banyak menangis mendengar kisah beliau.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit. Sambil menangis

_Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah  dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya _ BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

Senin, 25 Mei 2015

AKU INGIN MATI.......

Seorang pria setengah baya mendatangi salah satu dokter langganannya, “Dokter, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”

Sang Dokter pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”

“Tidak Dokter, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Dokter meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.” Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. “Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian ujar sang Dokter.

“Tidak Dokter, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran sang Dokter.

“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”

“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”

Setelah berpikir sejenak sang dokter masuk ke ruang pribadinya, kemudian keluar dengan membawa 3 botol berisi cairan khusus. Ambillah 3 buah botol ini. Diminum setiap hari satu botol mulai sore ini. 3 hari lagi kamu akan mati dengan sangat tenang.”

Giliran dia menjadi bingung. Dokter lain yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarinya racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati karena keinginanya untuk mati sudah bulat.

Pulanglah ia ke rumah. Ia langsung menghabiskan 2 botol yang disebut "racun" oleh dokter tersebut. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana ia tidak pernah rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai. Tinggal 3 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah “pikirnya dalam hati”.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran dengan nuansa romantis. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasana penuh kekeluargaan.

Sebelum tidur, ia mencium kening istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang ke rumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk ke dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sang istripun merasa aneh sekali, “Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.” Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah.

Ia ingin membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tapi bagaimana dengan 2 botol racun yang sudah ia minum, sore sebelumnya? ” Ya Tuhan, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Tuhan. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini.”

Ia pun buru-buru mendatangi sang dokter yang telah memberi 3 botol racun kepadanya. Sesampainya di rumah sang dokter tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.

Melihat wajah pria itu, rupanya sang Dokter langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang Dokter pun berkata “Buang saja sisa 1 botol racun itu. Isinya hanya air putih biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kita hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemput kita kapan saja, dan dimana saja, maka kita akan menikmati setiap detik kehidupan kita. "Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu."

"Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan pernah jenuh, tidak akan pernah bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami sang dokter, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.

Minggu, 24 Mei 2015

MAAFKAN AKU YA PAK..........

Seorang laki-laki tua pensiunan membawa HP bututnya ke konter handphone hendak memperbaiki hapenya tersebut... 
Selang beberapa menit diperiksa petugas konter dia bilang... Bapak ini hape bapak tidak ada yang rusak masih bagus dan bisa dipakai.. 
Sambil bingung bapak tersebut bicara: yang bener dek.. Coba tolong di cek lagi ini hape saya memang sudah lama sekali dulu saya beli punya tetangga biar bisa komunikasi dengan anak saya. 
Lalu di cobalah ditelpon pakai hape penjaga konter, nah tu pak bisa kan,  hape bapak ga rusak kok. 
Lalu lelaki tua itu sambil meneteskan air mata dan merunduk bilang " Tapi kenapa anak-anak saya tidak pernah menelepon saya?"
Bagaimana kabar orang tua anda hari ini?
Sehatkah mereka? Sudahkah ditengah kesibukkan anda hari ini menyempatkan diri untuk menanyakan kabar mereka?
Bukan uang, emas atau permata yang mereka harapkan dari anda. Tapi sekedar kabar atau suara anda yang mereka rindukan dikala jauh. ketahuilah mereka hanya ingin memastikan anda baik-baik saja, karena betapa jika anda sudah dewasa pun orang tua masih menganggap kita seperti anaknya dulu yang masih kecil selalu dibelai dan ditimang.
Maaf tulisan ini bukan untuk menggurui,tapi hanya sekedar berbagi, jangan sampai kisah ini terjadi bagi anda, sebab suatu saat kita akan menjadi orangtua seperti mereka.