http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-074f-388e-fa04?ln maswin

Selasa, 16 Desember 2025

 

Membangun Kesetaraan Gender dalam Perspektif Pendidikan dan Islam

Pendahuluan

Kesetaraan gender merupakan isu fundamental dalam pembangunan manusia dan pendidikan. Ketimpangan peran, akses, dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan masih menjadi tantangan di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan kehidupan sosial-keagamaan. Dalam konteks pendidikan, kesetaraan gender bukan berarti menyeragamkan peran, melainkan menjamin keadilan, kesempatan, dan penghargaan yang setara bagi setiap individu tanpa diskriminasi berbasis jenis kelamin.

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk Allah yang sama-sama mulia. Oleh karena itu, membangun kesetaraan gender sejatinya merupakan bagian dari upaya menegakkan nilai keadilan (al-‘adl) dan kemanusiaan (al-insaniyyah).

 

Konsep Kesetaraan Gender

Kesetaraan gender dimaknai sebagai kondisi di mana laki-laki dan perempuan memiliki hak, kewajiban, peran, dan peluang yang adil dalam berbagai aspek kehidupan. Kesetaraan tidak identik dengan kesamaan mutlak (equality), tetapi lebih menekankan pada keadilan proporsional (equity) sesuai potensi dan konteks sosial.

Dalam pendidikan, kesetaraan gender tercermin dalam:

  1. Akses pendidikan yang sama.
  2. Perlakuan yang adil dalam proses pembelajaran.
  3. Kesempatan yang setara untuk berkembang dan berpartisipasi.
  4. Penghapusan stereotip dan bias gender.

 

Kesetaraan Gender dalam Perspektif Islam

Islam menegaskan prinsip kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan.

Dalam konteks amal dan tanggung jawab, Allah SWT berfirman:

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.”
(QS. Ali Imran [3]: 195)

Ayat ini menegaskan kesetaraan spiritual dan sosial antara laki-laki dan perempuan.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Sesungguhnya perempuan itu adalah saudara kandung laki-laki.”
(HR. Abu Dawud)

Hadis ini menunjukkan relasi kemitraan (partnership), bukan dominasi.

Peran Pendidikan dalam Membangun Kesetaraan Gender

Pendidikan memiliki posisi strategis dalam membangun kesetaraan gender melalui:

  1. Kurikulum responsif gender, yang tidak bias dan stereotip.
  2. Keteladanan pendidik, baik laki-laki maupun perempuan.
  3. Lingkungan belajar inklusif, aman, dan saling menghargai.
  4. Penguatan kesadaran kritis peserta didik, agar mampu menolak diskriminasi.

Dalam Pendidikan Agama Islam, nilai kesetaraan gender dapat diinternalisasikan melalui penafsiran teks keagamaan yang kontekstual, moderat, dan berkeadilan. 

Tantangan dan Strategi Membangun Kesetaraan Gender

Tantangan:

  • Budaya patriarki yang mengakar.
  • Penafsiran teks agama yang parsial.
  • Stereotip gender dalam pendidikan dan masyarakat.

Strategi:

  1. Penguatan literasi gender berbasis nilai agama.
  2. Pemberdayaan perempuan melalui pendidikan.
  3. Dialog keagamaan yang inklusif dan moderat.
  4. Kebijakan pendidikan yang adil gender.

Strategi ini sejalan dengan prinsip keadilan dalam Islam, sebagaimana firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl [16]: 90) 

Penutup

Membangun kesetaraan gender merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilandasi oleh nilai keadilan, kemanusiaan, dan ketakwaan. Dalam perspektif Islam dan pendidikan, kesetaraan gender bukan ancaman terhadap nilai agama, melainkan wujud nyata pengamalan ajaran Islam yang menjunjung tinggi martabat manusia. Melalui pendidikan yang berkeadilan dan inklusif, kesetaraan gender dapat diwujudkan secara berkelanjutan demi terciptanya masyarakat yang adil dan beradab.

 

Daftar Pustaka

Daradjat, Zakiah. (2012). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Nata, Abuddin. (2014). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.

Fakih, Mansour. (2013). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Umar, Nasaruddin. (2001). Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Paramadina.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Satuan Pendidikan.

 

Memahami pengertian dan ketrampilan dalam Supervisi klinis

1. Tujuan dan Sasaran Supervisi Klinis

a. Tujuan Supervisi Klinis

Supervisi klinis bertujuan untuk:

  1. Meningkatkan kualitas pembelajaran melalui perbaikan praktik mengajar guru di kelas.
  2. Membantu guru mengembangkan kompetensi profesional, pedagogik, dan reflektif.
  3. Menyelesaikan masalah pembelajaran secara spesifik dan nyata berdasarkan kondisi kelas.
  4. Menciptakan pembelajaran yang efektif, humanis, dan berpusat pada peserta didik.
  5. Menumbuhkan kesadaran dan kemandirian guru dalam memperbaiki kinerjanya.

b. Sasaran Supervisi Klinis

Sasaran utama supervisi klinis meliputi:

  • Guru (terutama dalam proses pembelajaran).
  • Proses pembelajaran di kelas.
  • Strategi, metode, dan media pembelajaran.
  • Interaksi guru–peserta didik.
  • Pengelolaan kelas dan evaluasi pembelajaran.

2. Pendekatan Supervisi Klinis

Pendekatan supervisi klinis bersifat:

  1. Kolaboratif
    Supervisor dan guru bekerja sebagai mitra sejajar.
  2. Humanistik
    Menghargai martabat, perasaan, dan pengalaman guru.
  3. Demokratis
    Terbuka terhadap dialog dan partisipasi guru.
  4. Reflektif
    Mendorong guru melakukan refleksi terhadap praktik mengajarnya.
  5. Berbasis kebutuhan (need-based)
    Fokus pada permasalahan riil yang dihadapi guru.

3. Metode dan Teknik Supervisi Klinis

a. Metode Supervisi Klinis

  1. Observasi kelas
    Mengamati proses pembelajaran secara langsung.
  2. Wawancara
    Menggali persepsi dan kendala guru sebelum dan sesudah pembelajaran.
  3. Diskusi reflektif
    Menganalisis praktik pembelajaran secara bersama.

b. Teknik Supervisi Klinis

  1. Pertemuan awal (pre-conference)
    Membahas tujuan, fokus observasi, dan instrumen yang digunakan.
  2. Observasi pembelajaran
    Supervisor mengamati sesuai kesepakatan.
  3. Analisis data hasil observasi
    Data bersifat objektif, faktual, dan terukur.
  4. Pertemuan balikan (post-conference)
    Memberikan umpan balik konstruktif.
  5. Tindak lanjut (follow-up)
    Perbaikan dan pengembangan pembelajaran selanjutnya.

4. Mekanisme / Prosedur Supervisi Klinis

Mekanisme supervisi klinis umumnya melalui lima tahap:

  1. Identifikasi masalah pembelajaran
    Guru dan supervisor menentukan fokus supervisi.
  2. Perencanaan supervisi
    Menyusun jadwal, instrumen, dan kriteria pengamatan.
  3. Pelaksanaan observasi
    Supervisor mengamati pembelajaran secara langsung.
  4. Analisis dan interpretasi data
    Data diolah secara objektif.
  5. Umpan balik dan tindak lanjut
    Rekomendasi perbaikan dan pengembangan profesional guru.

5. Prinsip-prinsip Supervisi Klinis

Supervisi klinis harus berlandaskan prinsip:

  1. Objektivitas – Berdasarkan data nyata, bukan asumsi.
  2. Kerahasiaan – Hasil supervisi tidak untuk menghakimi.
  3. Keterbukaan – Adanya kejujuran dan saling percaya.
  4. Kontinuitas – Dilaksanakan secara berkelanjutan.
  5. Konstruktif – Berorientasi pada perbaikan, bukan kesalahan.
  6. Partisipatif – Guru terlibat aktif dalam proses supervisi.
  7. Profesional – Dilaksanakan sesuai etika dan standar akademik

 

DAFTAR PUSTAKA :

 

Acheson, K. A., & Gall, M. D. (2003). Clinical Supervision and Teacher Development (5th ed.). Boston: Allyn and Bacon.

Glickman, C. D., Gordon, S. P., & Ross-Gordon, J. M. (2018). SuperVision and Instructional Leadership: A Developmental Approach (10th ed.). Boston: Pearson.

Mulyasa, E. (2013). Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Pidarta, Made. (2009). Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.

Sahertian, Piet A. (2010). Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Sergiovanni, T. J., & Starratt, R. J. (2007). Supervision: A Redefinition. New York: McGraw-Hill.

Sudjana, Nana. (2011). Supervisi Pendidikan: Konsep dan Aplikasinya bagi Pengawas Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Uno, Hamzah B. (2012). Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru

Selasa, 09 Desember 2025

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN AGAMA DI INDONESIA



 Problematika pendidikan agama di Indonesia bersifat multidimensional, mencakup aspek internal dari sistem pengajaran itu sendiri maupun tantangan eksternal dari lingkungan sosial yang majemuk dan era globalisasi. Berikut adalah beberapa problematika utama tersebut:

1. Kualitas Tenaga Pendidik 

Salah satu masalah krusial adalah ketiadaan tenaga pendidik yang tepat dan cakap di banyak institusi. Masih banyak guru agama yang mengajar tidak sesuai dengan bidang keahliannya ("tak ada rotan akar pun jadi"). Selain itu, rendahnya kesejahteraan dan terbatasnya kesempatan pengembangan profesional menyebabkan demotivasi di kalangan pendidik, yang berdampak langsung pada kualitas pengajaran secara keseluruhan.

 
2. Kurikulum dan Metode Pengajaran
Sistem dan metode pengajaran sering kali kurang variatif dan inovatif. Problematika kurikulum
 meliputi: 
>   Padatnya mater
i namun minim nilai yang tersampaikan.
  • Dominasi aspek kognitif, sementara aspek afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan) kurang mendapat perhatian serius.
  • Paradigma dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, yang menyebabkan pendidikan agama terkesan terpisah dari realitas sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan.
  • Kurangnya materi inklusif yang mengajarkan cara beragama dalam masyarakat majemuk Indonesia, sehingga guru menghadapi tantangan dalam mengelola keberagaman di kelas. 

3. Minat Belajar dan Karakter Peserta Didik

Tantangan juga datang dari siswa, seperti motivasi belajar yang rendah, kurangnya pemahaman terhadap materi yang diberikan, dan rendahnya kemampuan literasi (minat baca). Selain itu, pendidikan agama juga dihadapkan pada tantangan dekadensi moral di kalangan generasi muda.
4. Sarana dan Prasarana
Banyak lembaga pendidikan, terutama di daerah, masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan sumber daya, seperti ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan media pembelajaran yang memadai. Keterbatasan dana juga menjadi kendala dalam pengembangan kualitas pendidikan secara umum.
5. Tantangan Eksternal dan Isu Kontemporer
Pendidikan agama di Indonesia juga menghadapi tantangan dari luar, antara lain:
  • Globalisasi dan kemajuan IPTEK yang membawa arus informasi tanpa filter, menuntut adaptasi metode pengajaran.
  • Isu radikalisme dan Islamofobia, yang menuntut pendidikan agama berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama.
  • Kesenjangan sosial-ekonomi yang turut mempengaruhi akses dan kualitas pendidikan. 
  • Secara keseluruhan, problematika ini menunjukkan perlunya penanganan yang komprehensif, tidak hanya sepotong-sepotong, untuk mewujudkan pendidikan agama yang berkualitas dan relevan dengan konteks keindonesiaan
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. A. (2015). Islam sebagai Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mulyasa, E. (2017). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tilaar, H. A. R. (2004). Multikulturalisme: Tantangan-Tantangan Global Masa Depan. Jakarta: Grasindo.
Kementerian Agama RI. (2019). Moderasi Beragama. Jakarta: Kemenag RI.

TEKNIK SUPER VISI PENDIDIKAN

 


Teknik supervisi pendidikan adalah cara-cara yang digunakan oleh supervisor untuk memberikan bantuan profesional kepada para personel sekolah (khususnya guru), dengan tujuan meningkatkan mutu proses belajar mengajar dan pencapaian tujuan pendidikan. Teknik-teknik ini dapat diklasifikasikan berdasarkan sasarannya (individu atau kelompok) dan pendekatannya (langsung atau tidak langsung). 
Berikut adalah macam-macam teknik supervisi pendidikan:
1. Berdasarkan Sasarannya
  • Teknik Individual (Perorangan): Dilakukan secara tatap muka dengan satu guru untuk menyelesaikan masalah atau memberikan bimbingan spesifik. Contohnya:
    • Kunjungan Kelas: Supervisor mengamati langsung proses pembelajaran di kelas untuk mendapatkan data objektif.
    • Observasi Kelas: Pengamatan terencana dan teliti terhadap aktivitas guru dan siswa menggunakan instrumen tertentu.
    • Pertemuan Pribadi/Konferensi: Diskusi empat mata setelah observasi untuk memberikan umpan balik dan solusi masalah yang spesifik.
    • Saling Mengunjungi Kelas: Guru-guru saling mengunjungi kelas rekan kerjanya untuk berbagi pengalaman dan ide.
  • Teknik Kelompok (Group Techniques): Diterapkan kepada sekelompok guru yang menghadapi masalah atau kebutuhan yang sama. Contohnya:
    • Rapat Staf/Pertemuan Guru: Forum untuk mendiskusikan masalah umum, kebijakan baru, atau program sekolah.
    • Diskusi Kelompok: Membahas topik-topik tertentu yang relevan dengan peningkatan kualitas pengajaran.
    • Lokakarya (Workshop) dan Seminar: Kegiatan yang melibatkan pelatihan intensif atau penyampaian materi oleh ahli untuk meningkatkan keterampilan tertentu, seperti manajemen kelas atau metode pengajaran.
    • Pelatihan In-Service: Pelatihan berkelanjutan yang diadakan di tempat kerja. 
2. Berdasarkan Pendekatannya
  • Pendekatan Langsung (Direktif): Supervisor secara langsung memberikan arahan, petunjuk, atau solusi kepada guru. Supervisor lebih dominan dalam proses interaksi.
  • Pendekatan Tidak Langsung (Non-Direktif): Supervisor bertindak sebagai fasilitator yang mendorong guru untuk mengidentifikasi masalahnya sendiri dan menemukan solusinya, dengan lebih banyak mendengarkan dan bertanya.
  • Pendekatan Kolaboratif: Supervisor dan guru bekerja sama secara setara dalam mengidentifikasi masalah, menganalisis data, dan merencanakan perbaikan. Ini adalah gabungan dari pendekatan langsung dan tidak langsung. 
Pendekatan Modern

a. Peer Supervision (Supervisi Teman Sejawat)
Guru saling melakukan pengamatan dan memberi masukan secara setara, sehingga tercipta suasana pembinaan yang lebih demokratis.

b. Coaching dan Mentoring
Pendekatan yang menekankan percakapan berfokus solusi untuk memberdayakan guru dalam menemukan strategi perbaikan pembelajaran.

c. Supervisi Berbasis Data
Menggunakan data hasil belajar siswa, kehadiran, dan perilaku sebagai dasar untuk mengambil keputusan peningkatan kualitas pembelajaran.

d. Supervisi Digital atau E-Supervision
Pemanfaatan teknologi, seperti video pembelajaran, platform daring, dan instrumen digital untuk menilai serta menganalisis praktik mengajar.


Glickman, C. D., Gordon, S. P., & Ross-Gordon, J. M. (2018). SuperVision and Instructional Leadership: A Developmental Approach. Pearson.
Sergiovanni, T. J., & Starratt, R. J. (2007). Supervision: A Redefinition. McGraw-Hill.
Purwanto, M. N. (2010). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. (2012). Manajemen & Kepemimpinan Kepala Sekolah. Bumi Aksara.

Jumat, 14 November 2025

 

Menyusun Sistem Evaluasi Pembelajaran 

Menyusun sistem evaluasi pembelajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang matang dan pemahaman yang jelas tentang tujuan pembelajaran. Sistem yang baik harus holistik, valid, reliabel, dan adil.

Berikut adalah langkah-langkah utama dalam menyusun sistem evaluasi pembelajaran:

1. Menentukan Tujuan Evaluasi

Langkah pertama adalah menentukan apa yang ingin Anda capai melalui evaluasi.

  • Tujuan: Apakah untuk mengukur penguasaan materi (pengetahuan dan pemahaman), mengukur keterampilan (aplikasi dan praktik), mengukur sikap (afektif), atau untuk tujuan diagnostik (menemukan kelemahan)?

  • Fungsi: Apakah evaluasi berfungsi sebagai Formatif (untuk perbaikan selama proses) atau Sumatif (untuk penilaian akhir)?

2. Mengidentifikasi dan Mengembangkan Instrumen Penilaian

Instrumen harus selaras dengan tujuan pembelajaran dan domain yang diukur (kognitif, psikomotorik, afektif).

  • Aspek Kognitif (Pengetahuan):

    • Tes Tertulis: Pilihan ganda, esai, isian singkat.

    • Contoh Instrumen: Soal ujian, kuis.

  • Aspek Psikomotorik (Keterampilan/Aplikasi):

    • Tes Kinerja: Mengamati dan menilai proses atau hasil praktik siswa.

    • Contoh Instrumen: Rubrik untuk presentasi, checklists untuk praktik laboratorium, portofolio.

  • Aspek Afektif (Sikap/Nilai):

    • Pengamatan: Mengamati perilaku siswa di kelas atau dalam kelompok.

    • Contoh Instrumen: Skala sikap (misalnya, skala Likert), jurnal refleksi, catatan anekdot.

3. Menetapkan Kriteria Penilaian dan Standar Keberhasilan

Anda perlu menentukan bagaimana kinerja siswa akan diukur dan apa yang dianggap "berhasil."

  • Kriteria Penilaian: Tetapkan indikator yang jelas untuk setiap instrumen (misalnya, dalam rubrik, tentukan kriteria untuk nilai A, B, C, dst.).

  • Standar Kelulusan (KKM): Tentukan batas minimum penguasaan materi yang harus dicapai siswa. Misalnya, siswa harus mencapai minimal 75% dari total nilai untuk dianggap tuntas.

4. Melaksanakan Evaluasi

Lakukan evaluasi sesuai jadwal dan prosedur yang telah ditetapkan.

  • Waktu: Tentukan kapan evaluasi formatif (di tengah proses) dan sumatif (di akhir unit/semester) akan dilakukan.

  • Prosedur: Pastikan siswa memahami instruksi, alokasi waktu, dan peraturan selama evaluasi.

5. Menganalisis dan Menginterpretasikan Hasil

Setelah evaluasi, data perlu diolah dan dimaknai.

  • Analisis Kuantitatif: Hitung skor rata-rata, persentase penguasaan, dan distribusinya. Lakukan analisis butir soal (tingkat kesulitan, daya pembeda) untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen.

  • Interpretasi: Gunakan data untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa secara individu dan kelompok. Cari tahu konsep mana yang paling sulit dipahami.

6. Tindak Lanjut dan Umpan Balik (Feedback)

Hasil evaluasi harus digunakan untuk perbaikan. Ini adalah langkah paling penting dari sebuah sistem evaluasi.

  • Umpan Balik: Berikan umpan balik yang konstruktif dan spesifik kepada siswa tentang kinerja mereka, bukan hanya skor.

  • Tindak Lanjut Pembelajaran:

    • Remedial: Bagi siswa yang belum mencapai standar (KKM).

    • Pengayaan: Bagi siswa yang telah mencapai standar atau unggul.

  • Tindak Lanjut Pengajaran: Gunakan hasil untuk merefleksikan dan memperbaiki strategi pengajaran atau instrumen evaluasi yang digunakan di masa depan.

Prinsip Kunci

Sistem evaluasi harus mencerminkan proses pembelajaran secara keseluruhan, bukan hanya hasil akhir. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan berbagai metode dan instrumen (multiple measures) untuk mendapatkan gambaran yang akurat tentang capaian siswa

Selasa, 11 November 2025


Supervisi Akademik dan Supervisi Menejerial

1. Supervisi Akademik

Pengertian:
Supervisi akademik adalah kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah untuk membantu guru dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Fokusnya adalah aspek akademik atau pembelajaran di kelas, seperti perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.

Tujuan:

  • Meningkatkan kompetensi pedagogik guru.
  • Membantu guru mengatasi kesulitan dalam mengajar.
  • Meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

Contoh kegiatan:

  • Observasi kelas oleh kepala sekolah.
  • Pembinaan cara menyusun RPP dan media pembelajaran.
  • Diskusi atau refleksi hasil pembelajaran.


2. Supervisi Manajerial

Pengertian:
Supervisi manajerial adalah kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh pengawas atau kepala sekolah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan sekolah secara keseluruhan.
Fokusnya adalah aspek manajemen dan administrasi sekolah, bukan langsung pada pembelajaran.

Tujuan:

  • Meningkatkan kinerja manajemen sekolah.
  • Meningkatkan mutu layanan pendidikan.
  • Memastikan program sekolah berjalan sesuai rencana dan peraturan.

Contoh kegiatan:

  • Evaluasi administrasi sekolah (keuangan, sarpras, kepegawaian).
  • Monitoring pelaksanaan program sekolah dan RAPBS.
  • Pembinaan sistem manajemen mutu sekolah.

Perbedaan Utama

Aspek Supervisi Akademik Supervisi Manajerial
Fokus

Proses pembelajaran dan guru

Pengelolaan sekolah
Sasaran


Guru dan kegiatan belajar mengajar


Kepala sekolah dan tenaga kependidikan
Tujuan

Meningkatkan kualitas pembelajaran



Meningkatkan efektivitas manajemen sekolah
Pelaksana

Kepala sekolah atau pengawas akademik



Pengawas sekolah atau pejabat manajerial
Hasil





Guru profesional dan pembelajaran efektif




Sekolah terkelola dengan baik

Rabu, 29 Oktober 2025

 

                                  STAI AL MARHALAH AL ULYA

                                                              BEKASI                         

UJIAN TENGAH SEMESTER GANJIL



Mata Kuliah       : Supervisi Pendidikan                              Dosen Pengampu : Hadi Winarno

Semester/Prodi : 5 / PAI                                                     Waktu     : 90 Menit



Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik!

1.  Mengapa supervisi pendidikan penting untuk diadakan, jelaskan dalam berbagai perspektif!

2.   Menurut pengamatan dan analisis saudara, apakah adanya kegiatan supervisi dalam dunia                        pendidikan dapat meningkatkan kualitas pendidikan? Jelaskan!

3.  Jelaskan, mengapa tujuan supervisi pendidikan adalah peningkatan layanan administrasi,                         peningkatan layanan pengelolaan/akademik, dan peningkatan kualitas pendidikan?

4.  Mengapa seorang supervisor pendidikan perlu memperhatikan prinsip-prinsip supervisi pendidikan?       Jelaskan!

5. Bagaimanakah sikap dan pandangan saudara ketika menumpai ada seorang supervisor pendidikan          mengabaikan prinsip-prinsip supervisi pendidikan dalam melaksanakan tugas supervisinya? Jelaskan!


Selamat mengerjakan!