http://tripwow.tripadvisor.com/tripwow/ta-074f-388e-fa04?ln maswin

Minggu, 20 Juli 2025

 

UBRUG DAN LENONG MEMBUAT GEGER WARGA CILEGON - BANTEN

 

CILEGON, 20 Juli 2025. Sejuknya CCM (Cilegon Center Mall) menjadi hangat karena kehadiran warga Cilegon di acara Diskusi Budaya dan Desiminasi Pertunjukan Lenong Betawi Dan Ubrug Banten yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) BPK Wilayah VIII. Acara ini selain dihadiri pengunjung mall juga dihadiri pelajar SMPN 1, SMPN 2, penggiat seni UBRUG Banten, Penggiat Seni Lenong, Dewan Kebudayaan Kota Cilegon, Kabid Kebudayaan Kota Cilegon, tokoh Kampung Silat Petukangan bang Haji Noval dan seorang akademisi yang juga pecinta seni rakyat pesanggrahan yaitu Hadi Winarno.

Acara ini dibuka oleh Kadisdikbud Kota Cilegon, Ibu Hj. Heni Anita Susila. Dalam sambutannya ibu Heni mengatakan bahwa diskusi yang diselenggarakan di Mall ini merupakan pertama kali digelar, apalagi dilanjutkan pertunjukan seni. Beliau juga punya rencana bahwa di Kota Cilegon akan diadakan BUDAYE CILEGON FEST & INTERNASIONAL FOLK – ART 2025 tanggal 6 – 11 Agustus 2025 di Alun - alun Kota Cilegon yang akan menampilkan budaya dari Indonesia, Rusia, Bulgaria, Korea Selatan, India dan komunitas seni budaya kota Cilegon. Masih menurut bu Heni, acara diselenggarakan dalam rangka untuk memperkuat citra Cilegon sebagai kota industri yang kaya budaya.

Sedangkan ibu Lita Rahmiati selaku kepala BPK wilayah VIII mengucapkan terimakasih kepada seluruh warga yang hadir untuk menyaksikan kegiatan diskusi ini, beliau juga bangga kepada semua pihak baik itu pemda Kota Cilegon dan masyarakat khususnya para pelajar Kota Cilegon.

Sebelum diskusi dilaksanakan, ditampilkan pembacaan puisi oleh pelajar Kota Cilegon dengan menggunakan bahasa daerah Cilegon. Dan juga dilanjutkan penampilan grup band Orro yang menyanyikan lagu andalan berjudul “Katuran Rawuh”. Grup band Orro kali ini juga tampil mengiringi penampilan seni Ubrug.

Diskusi Budaya menampilkan narasumber Kang Bahroni yang membahas asal seni teater rakyat Ubrug, bang Abdul Azis yang merupakan ketua Sanggar Seni Bintang Timur, membahas asal kata Lenong dan perkembanganya sampai saat ini.  Diskusi ini banyak menarik para pengunjung untuk bertanya tentang Ubrug, yang menurut Kang Bahroni bahwa “Ubrug itu teater seni rakyat yang ada sejak lama”,tapi menurut peserta diskusi ternyata banyak warga Cilegon yang tidak tahu tentang Ubrug. Salah satu peserta diskusi yaitu Ibu Neng guru pengajar dari SMPN 2 Cilegon yang lebih mengenal Lenong dari pada Ubrug. Ibu Neng bertanya kepada Kang Bahroni, “apa langkah jangka pendek, menengah dan panjang agar seni teater Ubrug lebih dikenal seperti Lenong”.

Dalam wawancara terpisah Hadi Winarno mengatakan pada reporter bahwa, acara ini sangat menarik untuk ditindak lanjuti oleh semua pihak yang terkait, khususnya para pelaku seni.  Para pelaku seni diharapkan siap menghadapi persaingan budaya global yang tentunya bisa melemahkan budaya lokal. Hadi Winarno juga berpesan bahwa, pelaku seni juga harus “melek teknologi” agar bisa mengemas budaya lokal untuk tampil di media sosial.

Acara ini ditutup dengan penampilan seni Ubrug dengan judul “Mat Pelor” dan Lenong Denes dengan lakon “Stambul Kumis Baplang”


Kamis, 12 Juni 2025

TOPENG BLANTEK di Festival Teater Tradisional 2025

 Di tengah senja ibu kota dan hingar-bingar kehidupan di Jakarta, kemeriahan pentas tradisional berhasil memikat publik pada Rabu sore (12/6/2025).


Gedung Kesenian Jakarta, menjadi saksi bisu hadirnya seni pertunjukan budaya Betawi, Topeng Blantek. Kesempatan kali ini, grup Topeng Blantek Fajar Ibnu Sena menampilkan teater dengan lakon "Sarba Mayangsari" yang dituntun oleh Nasir Mupid selaku sutradaranya.


Lakon ini merupakan cerita rakyat dari Betawi yang mengisahkan tentang Sarba, seorang pria berusia 40 tahun yang belum juga menikah. 


Sarba adalah potret klasik lelaki tua yang diincar sahabat dan lingkungan karena tak kunjung menjadi nahkoda kapal rumah tangga. 


Sampai puncaknya, sebab rayuan dan tekanan sosial yang semakin membisingi telinganya, Sarba menerima pinangan dari H. Marzuki untuk menikahi putrinya, Mayangsari. Namun, keindahan tak sedikitpun menghiasi rumah tangganya.


Tahun demi tahun sudah mereka lalui, tetapi belum juga dikaruniai keturunan oleh sang Ilahi. Problem ini membuat Sarba dihantui kegelisahan dan rasa malu. 


Hal ini menyebabkan Sarba mengucapkan janji di Gunung Batu Sempuh Tanggrang.


"Apabila istri saya hamil, maka saya akan membawa bekakak kebo," janji Sarba.


Tapi sayangnya takdir berkata lain, Tuhan pun menganugerahi anak lelaki diperut Mayangsari. 


Kejadian tragis datang, Sarba meninggal dunia akibat kutukan sumpah yang ia lontarkan di Gunnung Batu Sempuh belum dipenuhi. Janji yang terabaikan menyebabkan kutukan pasti.


Sarba Mayangsari bukan tentang hiburan semata, melainkan satire sosial yang menyajikan konflik ruhani manusia, beban tradisi, dan konsekuensi terhadap janji. 


Kisah ini dikemas dalam gaya khas, Topeng Blantek yang diiringi musik, dialog jenaka, serta olahan tubuh yang energik.


Pentas ini menjadi sukses karena memadukan unsur humor, kritik, serta nilai-nilai budaya secara sempurna.


Pementasan ini diperankan oleh generasi muda seperti Aziz, Adel, Apik, Aping, Ahsan, Rey dan masih banyak lagi. 


Mereka berhasil membawakan lakon ini dengan kuat dan seolah membuat kita hadir pada kejadian tersebut.

Pementasan ini dihadiri juga oleh penggiat budaya Betawi yaitu bang Haji Noval pembina kampung Silat Petukangan dan Hadi Winarno pembina sanggar Ondel² Pesanggrahan.



Suara Hati Penonton


Hadirnya pementasan ini disambut hangat oleh para penonton dari berbagai kalangan. Rusmantoro, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan mengapresiasi pementasan Topeng Blantek, sekaligus memberikan saran sebagai sebuah catatan.


"Pementasan ini sudah sangat bagus. Tapi saya rasa ada ruh yang sedikit memudar, ciri khasnya perlu diperkuat lagi," ucap Rusmantoro.


Selain itu, antsiasme juga datang dari generasi muda. Fatin, seorang Mahasiswi PBS Universitas Negeri Jakarta, tidak bisa menyembunyikan rasa kagum terhadap pementasan Topeng Blantek ini.


"Rasanya menyenangkan banget! Alurnya mengalir, sampai-sampai saya enggak sadar pertunjukannya sudah selesai. Selain itu, banyak sekali pesan yang bisa kita ambil dari pertunjukan ini," pungkasnya.


Tak hanya itu, Fatin pun merasa ingin terlibat dalam melestarikan kesenian tradisional.


"Saya jadi terinspirasi untuk ikut terlibat dalam mengembangkan dan melestarikan seni tradisional ini," tambahnya.


Penonton lain yang memberikan pandangan melalui kacamata Pendidikan adalah Grace, dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta. 


Ia menilai bahwa pementasan ini memiliki potensi sangat kuat untuk menjembatani antara kesenian tradisional dan dunia akademik.


"Ini bisa menjadi jalan awal bagi generasi muda. Pertama-tama kenal dulu, lalu tertarik, dan akhirnya ikut terlibat. Paling tidak, mereka punya pengetahuan dulu tentang seni Topeng Blantek, kontennya seperti apa, musiknya seperti apa, hingga bentuk pementasannya seperti apa," ucap Grace


Selain itu, Grace beranggapan bahwa kontribusi yang paling konkret dalam dunia akademik adalah menjadikan seni tradisional itu sebagai bagian dari tugas-tugas mahasiswa, seperti skripsi, artikel, dan lain sebagainya.


"Skripsi dan Artikel bisa menjadi kontribusi nyata, dan ajang menyebarluaskan kesenian tradisional. Ini merupakan bagian dari kontribusi dunia Pendidikan dalam melestarikan warisan budaya kita," tutupnya dengan penuh harapan.

Menjaga Warisan, Menyentuh Zaman


Dengan hadirnya Sarba Mayangsari, Topeng Blantek tak hanya membuktikan dirinya masih relevan, tetapi mampu menembus lintas generasi.


Pertunjukan ini menunjukan bahwa budaya itu bukan sekedar warisan terdahulu, melainkan ruang komunikasi lintas generasi.


Ketika gorden panggung tertutup dan lampu-lampu meredup, ada satu pesan yang akan diingat terus dibenak penonton.


    "Setiap janji yang diucapkan, baik kepada makhluk ataupun Tuhan adalah utang yang harus dilunasi,". 


Kisah ini mengajarkan kita bahwa manusia bisa tertawa dan bisa jatuh cinta, tetapi mereka tidak bisa lari dari janji yang dibuat sendiri.

Senin, 18 Desember 2017

The Influence of Question Form in The Formatif Evaluation and Cognitive Style To The Students' Mathematics Learning Outcomes.

And Experiment in the tenth grade Annida Al Islamy Bekasi Islamic Senior High School

The Objectives of this research are to get some information about the influence of (1) question form, (2) the student' cognitive style, (3) and the students' mathematics learning outcomes in the formative evaluation.

The hypotheses tested (1)the mathematics-learning outcome of the student who are given the easy question in the formative evaluation will be better than who are given the multiple choice question, (2) the mathematics-learning outcome of the students' who own the field independent cognitive style will be better than who own the field dependent cognitive style, (3) there are influence of interaction between the test form and students' cognitive style to the mathematics-learning out comes, (a) there is difference of the mathematics-learning out come,of the students' who own the field independent cognitive style given the easy question are better than those who are given the multiple choice question, (b) there is difference of the mathematics learning out comes, of the students' who own the field dependent cognitive style given the easy question are lower than those are given the multiple choice question.

The methode use in the research is the experiment. The population in this research are all of the students of the ten grade of Annida Al Islamy Bekasi Islamic Senior High School (150 students) and 110 students were taken as sample
In the instrument use collect the data of the variabel of the students' cognitive style was Likert scale mode quistioner. the validity was calculated by Alpha-Cronbach formula.The finding of research of that variabel was rii = .922 and  the variabel of the mathematics-learning outcomes was a test or question in the multiple choice and easy form.

The validity of the multiple choice were calculated by KR-20 formula and the result of test is rii = .69 . While validity of the eassy question were the caculated by Alpha-Cronbach formula and the result of the test  is rii = .749 .The data was analyzed by using descriptive and inferensial statistic, and it was use the variant analysis to examine/analyzed the hypothesis, then it was continued by using Tukey test to examine/analyses the different of the better group.

The finding of the research showed that, (1) the average the students who were given the easy question = 23.417 higher than who were given the multiple choice question = 19.889, (2) the students who owned the field independents cognitive style  had average of = 23.722 higher than who owned the field dependents cognitive style = 19.583, (3) there was influence of interaction between giving question form and the students' cognitive style to the mathematics-learning outcomes proved by the analysis result that data F counted = 4.239 higher than F table = 3.98, (a) there no difference between the students who owned the field independent cognitive style given the essay question and the multiple choice question.It was Tukey test, Q counted = .2965 lower than Q table = 3.61, (b) the average learning outcomes of the students' the owned the field dependent cognitive style given the essay question = 22.889 higher than who owned the cognitive style given the multiple choice question = 16.278.

The research finding are expeted to be useful for the quality of education considering the summary of the research that question form (X1) and the students' cognitive style (X2) did affect to the students' mathematics-learning outcomes(Y)

Minggu, 23 Oktober 2016

PONDOK PESANTREN : PENJAGA KARAKTER BANGSA

A. Pendahuluan
Era globalisasi dewasa ini sudah menjadi kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap bangsa dan negara, tidak terkecuali Indonesia. Proses interaksi dan saling pengaruh-mempengaruhi, bahkan pergesekan kepentingan antar-bangsa terjadi dengan cepat dan mencakup masalah yang semakin kompleks. Batas-batas teritorial negara tidak lagi menjadi pembatas bagi kepentingan masing-masing bangsa dan negara.
Di bidang ekonomi terjadi persaingan yang semakin ketat, sehingga semakin mempersulit posisi negara-negara miskin atau berkembang seperti Indonesia.Banyak produk - produk asing  misalnya seperti apel merah dari Washington, anggur merah, kelengkeng, buah pir Cina, pisang Cavendish, bahkan sampai bawang merahpun masuk begitu bebas tanpa bisa dibendung, dengan dalih  "perdagangan bebas". Globalisasi ekonomi ini sesungguhnya didukung oleh sebuah kekuatan yang luar biasa hebatnya, yaitu apa yang disebut liberalisme ekonomi, yang sering juga disebut kapitalisme pasar bebas. Kapitalisme pasar bebas ini mempunyai tiga ciri, yaitu pertama, sebagian besar sarana produksi dan distribusi dimiliki oleh individu; kedua, barang dan jasa diperdagangkan di pasar bebas yang bersifat kompetitif; ke tiga, modal diinvestasikan ke dalam berbagai usaha untuk menghasilkan laba. Bagi negara-negara berkembang, sistem kapitalisme pasar bebas jelas akan sangat merugikan, sebab kekuatan modal besar akan bisa menggilas produk - produk  dalam negeri.yang  tidak akan mampu bersaing dengan produk negara maju.
 Sementara itu dalam bidang politik dan pertahanan keamanan terjadi pula pergeseran nilai. Misalnya, globalisasi di bidang politik tampak, bahwa demokrasi dan HAM telah dijadikan oleh dunia internasional untuk menentukan apakah negara tersebut dinilai sebagai negara beradab atau bukan? Beberapa negara timur tengah misalnya telah porak poranda karena politik yang dianut di negara tersebut tidak sesuai dengan HAM dengan yang ditetapkan dunia barat, sehingga menuntut pihak asing untuk ikut campur di negara tersebut.
Dalam bidang sosial dan budaya, dampak globalisasi antara lain adalah meningkatnya individualisme, perubahan pada pola kerja, terjadinya pergeseran nilai kehidupan dalam masyarakat. Saat ini di kalangan generasi muda banyak yang seperti kehilangan jati dirinya, sehingga ada yang melampiaskan memakai obat - obatan terlarang.
B. Pendidikaan berkwalitas
Untuk menghadapi dampak negatif dari globalisasi adalah dengan meningkatkan kwalitas pendidikan. Pendidikan yang berkwalitas harus bisa mencetak individu yang mempunyai kreatifitas yang tinggi, tangguh, tidak mudah menyerah, dan tentunya mempunyai karakter budaya bangsa yang kuat. Jika tidak maka individu itu akan jadi pecundang di negerinya sendiri artinya menjadi penonton atau penaunggu sedekah dari bangsa lain yang menguasai negerinya.
"Bangsa  apa pun, apalagi bangsa kita, tidak akan mungkin dapat mencapai kemajuan tanpa sumber daya manusia yang baik. Sumber daya manusia yang baik tidak akan dapat kita peroleh tanpa pendidikan yang baik." kata Yusuf Kalla dalam pertemuan dengan pengurus Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta.[i]
Pendidikan yang berkwalitas juga harus menjadi proses pembudayaan manusia untuk dijadikan manusisa seutuhnya sesuai dengan karakter bangsa atau masyarakatnya. Pendidikan bukanlah mesin "ATM" yang bisa digunakan untuk mentransfer suatu nilai dengan cepat tanpa memperhatikan daya serap anak didik, pendidikan juga bukan merupakan progaram komputer yang bisa dengan cepat meng copy - paste nilai kedalam otak anak didik.
Pendidikan yang berkwalitas adalah pendidikan yang bukan mencetak anak didik yang jago menghafal, mencotek, mudah depresi, minder, suka melakukan bullying(untuk mendapat pengakuan dari adik kelas) tetapi pendidikan yang bisa mencetak  rasa peduli pada sesama, kreatif, mandiri, rasional dan tidak mudah menyerah.
Pendidikan yang berkwalitas harus bisa menghasilkan banyak pemimpin. Pemimpin yang baik menurut Ki Hajar Dewntara adalah pemimpin yang mempunyai sifat Ing Ngarso Sung tolodo, In Madyo Mangu Karso, Tut Wuri Handayani yaitu pemimpin yang jika didepan masyarakat harus bisa jadi teladan, ditengah masyarakat harus bisa memberi semangat, dan jika dibelakang bisa menjadi pendorong.
Menurut Platon untuk mendidik calon pemimpin ada tiga pengandaian dasar yaitu yang pertama, pendidikan itu mendidik jiwa anak didik. Dengan memahami jiwa  menurut Platon membuat kita sadar bahwa pendidikan harus bisa mengarahkan jiwa anak didik kearah kebenaran yang sejati. Kedua, Imitasi artinya pendidikan harus bisa  meniru keutamaan  lingkungan sekelilingnya, dengan begitu pendidikan bisa menciptakan sensebilitas (kepekaan rasa merasa). Ketiga, konsisten dengan prinsip bahwa hidup itu harus direngkuh.[ii]
Untuk mendidik anak didik yang dapat menjadi pemimpin tentunya memerlukan suatu figur yang mempunyai integritas untuk memajukan bangsa ini untuk dijadikan panutan dan teladan.

C.Pentingnya karakter bagi kemandirian bangsa
 Negara  Jepang yang pada awal Maret 2011, terjadi gempa Tsunami, yang menurut Kompas.com tinggi gelombang air laut yang mencapai daratan mencapai 4 meter dan kekuatan gempanya mencapai 8,9 SR, benar-benar melumpuhkan negeri matahari tersebut. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi di Indonesia, maka secepat kilat para pewarta baik cetak atau elektronik mengabarkan orang yang meratap dan berurai air mata akibat bencana itu. Para pewarta seakan beradu cepat, akurat, tajam, dan terpercaya untuk menampilkan dan mempertontonkan kemalangan dan derita masyarakat. Sementara para petinggi dan pesohor negeri saling mengkritik dan mencaci terhadap penanganan bencana tersebut untuk berebut simpati.
Tetapi peristiwa tersebut tidak terjadi di negeri Jepang, para pewarta cetak ataupun elektronik mengabarkan dengan santun dan hati-hati.Mereka mengabarkan bencana tersebut dengan penuh kearifan dan jauh dari provokasi. Mereka tidak menampilkan orang yang meraung - raung karena kehilangan sanak famili dan harta bendanya. Mereka mengabarkan orang-orang yang tertib saat antri menerima bantuan dari para sukarelawan. Mereka mengabarkan bahwa malapetaka yang hebat itu tidak meruntuhkan semangat dan karakter bangsa Jepang.
Karakter yang kuat perlu dimiliki suatu bangsa dalam mempertahankan keberadaan bangsa tersebut. Thomas Lickona berpendapat bahwa, "Sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran, ketika karakternya tergadai."[iii]
Membentuk bangsa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan Moral Choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi kebiasaan dan membentuk watak atau tabiat seseorang.
Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Pendidikan karakter, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur. Dan yang terpenting adalah praktekan setelah informasi tersebut diberikan dan lakukan dengan disiplin, sehingga terbentuklah suatu kebiasaan atau budaya.
D.Pesantren dan pembangunan karakter
Tidak ada data resmi tentang kapan  pesantren atau pondok pesantren pertama muncul di Indonesia. Namun dari catatan para sejarawan, pesantren mulai dikenal di Nusantara sejak masuknya Islam di Indonesia. Menurut para ahli, pondok pesantren sebagai sebuah model lembaga pendidikan Islam mulai dikenal di Pulau Jawa sekitar permulaan abad ke-15 atau kurang lebih 500 tahun yang lalu. Selama kurun waktu hampir setengah milenium itu, lembaga pesantren telah mengalami banyak perubahan di berbagai segi dan telah memainkan berbagai macam peran strategis dalam masyarakat dan bangsa Indonesia. Pada era walisongo, peranan terpenting dari pondok pesantren tampak dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Pesantren dengan figur kiayi atau wali juga memiliki kekuatan politis untuk melegitimasi sebuah kekuasaan seperti yang terjadi pada kasus kerajaan Demak dan Pajang. Peran politis tersebut semakin menguat pada zaman penjajahan Belanda, dimana hampir semua peperangan melawan pemerintah kolonial Belanda bersumber atau paling tidak mendapat dukungan sepenuhnya dari pesantren.
Adapun perkembangan pondok pesantren sebagai sebuah sistem pendidikan tertua di Indonesia mulai menjamur khususnya di tanah Jawa sejak abad ke-17. Keberadaan pesantren dalam sejarah Indonesia telah melahirkan hipotesis yang barangkali memang telah teruji, bahwa pesantren dalam perubahan sosial bagaimanapun senantiasa berfungsi sebagai “platform” penyebaran dan sosialisasi Islam.
Kata pondok berasal dari bahasa arab “funduq” yang berarti ruang tidur, asrama, atau wisma sederhana.[iv] Maka pondok memang pada awalnya adalah tempat penampungan sederhana bagi para santri yang jauh dari tempat asalnya. Bahkan kini “funduq”  juga dapat diartikan sebagai hotel mewah. Adapun pesantren berasal dari bahasa India “shastri” yang berarti ilmuwan atau cendikiawan (Hindu), maka pesantren sendiri adalah tempat pendidikan untuk mencetak dan melahirkan ilmuwan-ilmuwan atau cendikiawan (Hindu).[v]
Pondok pesantren bukan hanya tempat untuk melakukan untuk melakukan tranfer ilmu dan teknologi,tetapi juga suatu lembaga yang memiliki pola atau sistem untuk membentuk masyarakat yang bisa berbeda dengan masyarakat sekitarnya.
Sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai ciri khas, pesantren memiliki tradisi keilmuan yang berbeda dengan lembaga pendidikan yang lain, salah satu kekhasan pesantren adalah tetap mempertahankan kemandirian dan hidup kolektif yang tidak bisa dipisahkan sifat al-ukhuwwah (persaudaraan), al-ta'awun(tolong menolong), al-ittihad(persatuan), peduli, musyawarah, tanggung jawab, kesetaraan, kesabaran, kejujuran, kasih sayang, penghargaan al-tha'ah(patuh/taat pada Allah,Rasul,pemimpin).
Ciri khas yang dimiliki pesantren seperti tersebut diatas terbentuk dalam diri santri melalui proses interaksi yang alami antara pengajar(ustad/kyai) dengan santri, atau antar sesama santri, yang menyebabkan timbulnya suatu kebiasaan atau karakter yang positif, karena hal tersebut tidak diajarkan melalui lisan saja tetapi juga dalam contoh perbuatan  sehari- hari. Jadi tidak salah kalau pesantren disebut penjaga karakter bangsa
E. Penutup
Pondok pesantren merupakan lembaga yang asli dan tertua di Indomesia. Keberadaannya sudah teruji oleh zaman, sehingga sampai saat ini masih bisa bertahan dengan berbagai macam dinamikanya. Ciri khas yang dimiliki oleh pesantren dan tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain adalah pola pendidikan yang berjalan selama duapuluh empat jam dengan menkondisikan para santri dalam satu lokasi asrama sehingga mempermudah mengaplikas sistem pendidikan yang total.
Selain itu pendidikan di pondok pesantren juga mengajarkarkan nilai - nilai yang positif yang diajarkan melalui contoh dan teladan yang nyata oleh para guru (ustad) dan teman santri yang senior,sehingga bisa membentuk masyarakat yang berkarakter positif.
Daftar Pustaka
Ali, Atabik-Muhdhor, Ahmad Zuhri (1996) Kamus Kontemporer Indonesia (Al-‘Ashry), Yogyakarta : Yayasan Ali Maksum
Arifi, Ahmad (2010), Politik Pendidikan Islam, Menelusuri Ideologi dan Aktualisasi Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi. Sleman : Teras
Badruzaman, Abad (2010) Membangun Keshalehan Sosial, Sleman : Teras
Departemen Agama RI (2003) Pola Pembelajaran Pesantren, Departemen Agama RI, Jakarta : Departemen Agama RI
Husaini, Adian (2012) Pendidikan Islam,Membentuk Manusia Berkarakter. Depok : Adabi Press
Kasali, Rhenald(2014), Let's Change : Kepemimpinan, Keberanian, Dan Perubahan, Jakarta  : PT Kompas Media Nusantara
Lebang, Toni,(2007), Berbekal Seribu Akal Pemerintahan Dengan Logika Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Lickona, Thomas (1992) Educating For Character :How Our School Can Teach Respect and Responbility New York, Bantam Books.
Wibowo,A Setyo, Cahyadi, Haryanto (2014) Mendidik Pemimpin Dan Negarawan Dialektika Filsafat Pendidikan Politik Platon Dari Yunani Antik Hingga Indonesia, Yogyakarta : Penerbit Lamlera
Wibowo, Agus (2012) Pendidikan Karakter, Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.









1. Tomi Lebang, Berbekal Seribu Akal Pemerintahan Dengan Logika (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama,2007) h.175
[2] A.Setyo Wibowo,Haryanto Cahyadi, Mendidik Pemimpin Dan NegarawanDialektika Filsafat Pendidikan Politi Platon Dari Yunani Antik Hingga Indonesia, (Yogyakarta : Penerbit Lamlera 2014)h 287
[3) Thomas Lickona, Educating For Character :How Our School Can Teach Respect and Responbility (New York, Bantam Books,1992).
[4] Atabik Ali-Ahmad Zuhri Muhdhor, Kamus Kontemporer Indonesia (Al-‘Ashry), (Yogyakarta : Yayasan Ali Maksum, 1996), h. 1408
[5] Pola Pembelajaran Pesantren, Departemen Agama RI, (Jakarta : 2003), h. 5

Jumat, 05 Juni 2015

MAAFKAN SAYA YA BUNDA.......

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.
Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan.
Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.
Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu".
Saya pun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya"
Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil."
"Memang harganya berapa dok?" Tanya saya.
Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik."
"Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?"
Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil."
Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari tiga puluh enam juta, Dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi.
Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan."
"Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak." jawab dokter.
Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya Tuhanku... aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba- Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku... gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk.
Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."
Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 2.500,00 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 12.500,00. Saya ambil uang itu, Rp 7.500,00 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.
Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat... yang ngambil uangku kualat..." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.
Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu."
Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?"
"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega- teganya ada yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon.
Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.
Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya... yang ngambil uang itu saya, bu... saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf... saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu." Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan, pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya. Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan

sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter."

MAINKAN SAJA PERANMU,TUGASMU HANYA TAAT KAN ?

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika masa yang semestinya kamu sudah menjadi seorang mahasiswa, tapi nyatanya kini masih harus berjuang lagi untuk menjadi mahasiswa. Mainkan saja peranmu dengan sebaik-baiknya, bahwa Allah menakdirkan kebaikan untukmu, dari jalan perjuangan ini, lagi dan lagi.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika skripsi atau tesismu terbengkalai tersebab kamu mengurus amanah Allah yang akan menjadi bintang. Mainkan saja peranmu dan Allah akan tunjukkan jalan keluar yang spesial untukmu.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan. Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati, sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab. Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis. Mainkan saja peranmu, ya mainkan saja, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk. Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah? Lelah yang Lillah, berujung maghfirah.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu? tetap berjalan bersama ridha-Nya dan ridhanya, untuk bahagia buah cinta.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya, langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut. Mainkan saja peranmu dengan sebaik-sebaiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam menengadah mesra bersamanya.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati. Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana Zulaikha yang sabar menanti Yusuf tambatan hati, atau bagai Adam yang menanti Hawa di sisi.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini, membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu. Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian, rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah dalam catatan takdir manusia.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ya, taat. Bagai nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Taat yang dalam suka maupun tidak suka.
Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasa menjadikan kekuatan untuk tetap taat.
Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-Nya, dan karena-Nya.


Selasa, 26 Mei 2015

KU KAN TETAP MENCINTAIMU.....


Aku ingin lari dari keputusasaan ini
lepas dari cengkeraman keraguan
dan berusaha kuat dengan ketidakberdayaanku
aku tidak mau dibilang lemah

Hanya karena tangisan yang keluar dari mata
aku tidak ingin dikatakan rapuh
hanya karena besarnya rasa cintaku
tapi aku hanya mampu diam

Dan membiarkan semua begitu saja
tetap seperti adanya
mengalir sampai ke tempat tujuannya…
Aku akan tetap berusaha sabar

Berdiri tegar dengan sisa-sisa tenagaku
aku yakin semua keputusasaan, keraguan, dan ketidakberdayaan
itu akan lenyap menghilang
seiring dengan bergantinya musim

Aku tidak akan kehilangan cintaku
karena aku yakin cinta yang kupunya tak’kan habis
yang hanya kupersembahkan untukmu
wahai cinta sejatiku….